Sabtu, 24 November 2012

Tetap Istiqomah Saudariku ~_@


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang masih meminjamkan kita ruh
dan nafas sampai saat ini..

“Do not look the book from the cover”
Kalimat ini pasti sudah tidak asing bagi teman-teman. Kita terkadang cepat mengambil kesimpulan akan sesuatu sebelum kita mencoba untuk mendekati atau mencari tahu tentangnya. “Percayai apa yang kita lihat” , katanya. Padahal sebenarnya mata masih dapat tertipu.

Aku punya sahabat-sahabat baru di sini, sebut saja namanya Anggi, Karimah, dan Nisa. Pertama kali kami bertemu saat kami dikumpulkan untuk mengurus berkas-berkas pendaftaran ulang sebagai mahasiswa baru oleh ketua program jurusan kami, kebetulan kami masuk dalam program khusus dari pemerintah. Di antara mereka yang terlebih dahulu kutemui adalah Nisa. So, pada tulisanku ini mungkin lebih membahas tentang dia. Pertama kali melihatnya sudah kusimpulkan bahwa dia gadis yang tomboy. Memakai kaos oblong, celana jeans, tanpa riasan sedikitpun, sangat gaul dengan setelan yang dibelinya di distro. Tapi yang kusuka dari dirinya, dia tetap membiarkan rambutnya tumbuh panjang hingga ke lengan dengan poni samping menutup dahinya.

Kami kembali bertemu di tempat kuliah, di kelas, di kantin, di mana saja dia selalu terdeteksi oleh pandanganku. Mungkin dia yang mengikutiku, entahlah. Hehehe…(peace ^-^). Masih dengan style yang sama, berbeda dengan style para mahasiswi yang lainnya. Kali ini kemeja lengan panjang yang ia gunakan (di kampus tidak diperbolehkan memakai kaos), celana jeans hitam yang pada ujung kakinya makin menyempit, walau tidak ketat seperti celana jeans lainnya. Ditambah lagi cara berjalan yang memiliki kecepatan di atas rata-rata cewek pada umumnya, yah, dia memang memiliki semangat yang lebih dibanding kami. Hingga pada suatu ketika, untuk pertama kalinya kami berhadapan langsung dengan dekan fakultas kami, dekan yang konon memiliki keunikan dan keistimewaan dibandingkan dengan dekan dari fakultas lain. Just info guys, hanya dekan dari fakultas kami loh yang terkenal hingga ke penjuru universitas, hahaha *uupss . Saat itu kami sekelas dikumpulkan di depan gedung ruangan beliau. Setelah beberapa lama mendapatkan arahan beserta kata-kata mutiara yang cukup menyayat hati karena ada sebagian dari kami yang tidak mengikuti perintah beliau, hingga keluarlah satu kalimat dari beliau yang membuat kami tak kuasa menahan tawa, “hei kamu (sambil menunjuk salah satu anak cowok ), perjelas kelamin mu!”. Cowok yang ditunjuknya adalah salah seorang teman kelasku yang memiliki sifat lembut dan gaya yang sedikit menyalahi kodratnya sebagai cowok. gubrak. Kami tertawa seakan sedang menyaksikan stand up comedy. “Apa yang kalian tertawakan, heh? Saya tidak sedang melucu ya. Saya serius ini”, ujarnya dengan wajah yang beneran serius. Hm, saat itu kami tahu itulah keistimewaan dari beliau.  

Setelah kejadian hari itu salah seorang sahabatku, Anggi yang kemarin tidak mengenakan jilbab ke kampus akhirnya berjilbab. Turut merasakan sindiran dari pak dekan yah cin? hehehe peace ^-^
Tapi, Nisa masih tetap dengan apa adanya dia. Nisa belum mau mengenakan jilbab. Hingga sekian pertemuan di mata kuliah agama dia absen karena itu, begitu pula pada mata kuliah yang dibawakan oleh pak dekan.

Day after day, entah kena angin apa, pagi itu Nisa datang dengan membawa sebuah berita yang pada awalnya kami tidak mengerti. “Wehh..ada kecelakaan anak kedok UNDIP”,ujarnya sambil menatap kami. Kami hanya diam menunggu kalimat berikutnya, “ada blog terakhirnya toh yang membahas masalah kematian ma tentang bidadari dunia. Bagus sekali kasian blognya”. Akhirnya, karena penasaran kami pun membuka blog tersebut dan subhanallah, setiap pagesnya sangat bermakna dan penuh manfaat. Ada sebuah semboyan dari beliau yang membuat kami makin kagum pada tulisan-tulisannya. 

                “Mari bersama-sama memperbaiki diri. Menjadi wanita dunia yang dicemburui para bidadari surga”

Subhanallahkan kalimatnya ? tidak hanya itu, kak Novilia juga membahas tentang seberapa penting hijab bagi kaum akhwat. Kami membaca semua isi tulisan beliau dan kami pun tahu bahwa ia adalah akhwat yang taat kepada Allah. Ia salurkan semua ilmunya kepada orang banyak. Mungkin saat ini beliau tidak menyadari seberapa banyak akhwat yang tergugah hatinya karena membaca tulisan-tulisannya. Namun insya Allah itu bisa menambah amal jariyah baginya. Hmm… mungkin Allah terlalu menyayanginya sehingga Allah tidak ingin kak Novilia terbawa arus duniawi yang makin deras setiap saatnya. Semoga Allah memberikan tempat terindahNya untukmu kak ^_^

Hari itu kami kuliah di Fakultas Keguruan, lumayan jauh dari fakultas kami. Menunggu dosen yang tak kunjung datang sangat membosankan. Dan apakah yang kami saksikan hari itu ? kami melihat sesosok gadis nan manis berbaju biru dan rok berwarna coklat dari kejauhan datang menaiki motor matic putih. Rambutnya yang terurai beterbangan terbawa angin. Kami penasaran siapakah gadis itu. Makin dekat dan dekat, gadis itu menaikkan telunjuknya dan mengarahkannya pada teman-temanku sembari berkata “wehh janganko ada ketawa nah, jangan ko ketawa. Awass ko” katanya. Seketika itu suasana berubah. Semua teman-temanku yang tadinya duduk langsung berdiri, yang tadinya berdiri langsung mendekat menuju tempat sang gadis memarkir motornya. Semua hanya bisa berkata “Nisa?? Nisaa??”. Ternyata gadis manis tadi adalah Nisa. Saya, Anggi, dan Karimah yang baru saja datang ke tempat itu dari jauh sudah memperhatikan suasana tersebut. Namun kami berusaha untuk tetap menjaga sikap dan menganggap tidak ada hal yang aneh. Hehehe, memang tidak aneh kok, tapi langka..ckckckckck.. ^_^ mulai saat itu Nisa ingin nama panggilannya lebih lengkap yakni, Annisa (perempuan). Alhamdulillah, sahabat kami itu kini sudah mulai menyadari betapa indahnya dia dan ingin menjaga keindahan yang telah Allah berikan padanya.

 Para saudariku, Allah menciptakan wanita dengan sejuta keindahan. Jadi, tanpa bersusah payah dipoles-poles lagi entah itu pakai make up atau berpakaian yang mewah kita sudah indah. Hanya saja, masih sangat banyak wanita yang tidak menyadari akan hal itu. Yakinlah, kau indah dengan kesederhanaanmu.

Minggu, 11 November 2012 adalah hari yang sangat kami nantikan. Hari ini akan dilaksanakan Seminar Nasional se-Sulawesi Tenggara yang bertemakan Muslimah Idaman, Idaman Muslimah. Kegiatan tersebut akan dihadiri oleh motivator-motivator hebat, salah satunya aktris muslimah Oki Setiana Dewi. Kami yang sangat antusias bahkan sudah mengecek lokasi malam sebelum dilaksanakannya acara. Alhamdulillah panitianya baik hati, kami tidak diusir, hehehe.. Kami bertekad harus duduk di barisan paling depan. Kami memutuskan untuk datang setengah jam lebih awal sebelum kegiatan dilaksanakan, yakni pukul 07.00. 

Keesokan harinya. . .
Kami sepakat untuk berkumpul di rumah Karimah. Saya yang terlebih dulu tiba lalu tidak lama kemudian Anggi. Karena ini adalah acara muslimah, kami ingin berpenampilan berbeda dari hari biasanya. Hehehe, jaga-jaga siapa tahu dapat kesempatan berfoto bareng kak Oki. Beberapa saat kemudian Annisa muncul. Dia menggunakan baju kemeja dan celana jeans botol. Kami kaget dan gerah melihatnya. Bagaimana tidak, kami akan menghadiri acara yang bertemakan muslimah, tambah lagi ini adalah seminar nasional. Kenapa mesti disaat seperti ini dia kembali menggunakan style itu? “Supaya bisa ki lari cepat kalo mw foto sama kak Oki”, alasannya dengan wajah polos. Alasan yang tidak bisa kami terima. Dengan lugas kami menyuruhnya pulang untuk mengganti bajunya dan menggunakan baju yang lebih pantas untuk hari ini. Dia terus menolak hingga akhirnya pulang dengan wajah menyerah.

Beberapa  saat kemudian, akhirnya dia kembali. Dia kembali dengan berpenampilan yang sangat berbeda, baju cewek dan rok kembali ia kenakan. Kami sempat menyuruhnya untuk menggunakan jilbab. Namun ternyata dia belum mau.yo wisslah.. Belum cukup dua menit dia duduk, tiba-tiba ia bangkit dan teringat bahwa tiketnya ia simpan di kantong celana jeans yang tadi ia gunakan. Gubrak -_- akhirnya buru-buru ia pulang lagi mengambil tiketnya. Lama dan lama kami menunggu, akhirnya dia kembali dengan nafas terengah-engah. Nyaris saja dia tidak datang ke seminar, jeans yang tadi ia pakai sudah sempat masuk ke mesin cuci oleh kakaknya. Untung saja, tiketnya masih bisa diselamatkan walaupun sudah luntur dan sedikit sobek. Alhamdulillah yah.. :)

Finally, kami berangkat. Tengok jam, what??? Sudah pukul 08.30! Pupus sudah harapan untuk duduk di baris depan L benar-benar keterlambatan yang tidak bisa ditolerir lagi, entah karet apa yang bisa sekendor ini. Dengan wajah lesu kami berjalan masuk ke gedung. Baris ke delapan, di situlah kami duduk. Lebih dekat menengok ke belakang dari pada melihat panggung di depan. Kak Oki katanya muncul nanti setelah sholat dzuhur. Sebelum itu diisi oleh motivator-motivator yang membawakan materi tentang peranan muslimah dalam keluarga, masyarakat, dan profesi. Materi yang sangat bagus namun mungkin karena mood kami yang sudah luntur duluan sejak duduk di kursi ini membuat kami tidak begitu konsen menyimak materi.

Setelah agenda pembawaan materi, ada hiburan nasyid akhwat dan akustik. Saat itu Karimah maju ke depan untuk mengambil gambar. Dan apa yang terjadi selanjutnya ? di barisan depan ternyata masih ada bangku kosong! Cek dan ricek, kursi yang mungkin tadinya disiapkan untuk tamu-tamu penting boleh kami tempati. Secepat kilat kami berpindah posisi dari barisan ke delapan menuju barisan pertama untuk kursi peserta wahhh…rasanya legaaa sekali duduk di kursi ini. Rasanya bernafas jadi lebih ringan, mata jadi lebih segar,perasaan jadi lebih nyaman. Impian kami sejak semalam terwujud. Ya Allah, Engkau memang sayang sama kami :*Alhamdulillah yah hehehe..

“Dan mari kita sambut, Oki Setiana Dewi….” Teriak MC, Lagu Ayat-Ayat Cinta tiba-tiba terdengar makin menyemarakan suasana.

Semua peserta berdiri dan menengok ke belakang. Sesosok akhwat dengan tinggi semampai dengan kerudung merah jambu yang menutupi tubuhnya sembari menebarkan senyuman kepada semua orang berjalan di antara kursi peserta. Masya Allah, Allah Maha Pencipta yang paling baik. Tanpa kami sadari, air mata kami menetes. Entah karena apa. Mungkin inilah yang namanya air mata kebahagiaan. Kami bahagia, sangat bahagia.


Kami menyimak dengan baik materi yang Kak Oki bawakan. Kak Oki banyak membahas masalah hijab. Bagaimana menggunakan jilbab yang baik dan syar’i. Sampai pada suatu ketika dia bertanya, “siapa yang belum mengenakan jilbab ? selain ke kampus, yang belum mengenakan jilbab di sini siapa?”. Lumayan banyak peserta yang mengacungkan tangannya. Salah satunya Annisa. Dan peserta yang berhasil menarik perhatian Kak Oki adalah Annisa. Saat acara tersebut, mungkin hanya ada dua orang peserta yang tidak mengenakan jilbab, salah satunya Annisa. Kak Oki menghampiri Annisa yang berada di dekat kami. Annisa di ajak maju ke depan bersama Kak Oki, betapa kegirangannya kami melihat kejadian itu. Kak Oki  melontarkan pertanyaan yang sudah sering Annisa dapatkan, “Kapan berjilbabnya?” dengan malu-malu Annisa hanya tersenyum. Kak Oki dengan tatapan teduhnya menatap Annisa dan tersenyum. Setelah itu bertanya kepada para hadirin, “Siapa yang mau bersedekah? Yang punya seratus ribuan ? atau berapa aja yang penting ikhlas.Kebetulan Kak Oki lagi tidak bawa dompet. Seikhlasnya aja” Satu persatu peserta memberikan uangnya,tapi hanya ada sebagian peserta. Tanpa diduga, Kak Oki permisi dan berjalan keluar gedung, Annisa yang saat itu masih berada di samping Kak Oki, menyaksikan langsung Kak Oki menghampiri penjual kerudung yang juga sponsor kegiatan. Annisa dengan wajah malu-malu menatap kami, begitupun kami yang masih sulit percaya akan apa yang terjadi.

Kembalilah Kak Oki dengan kerudung yang Ia jajaki sendiri. Segera Ia kenakan di kepala Annisa, lalu berkata, “tuh kan cantik..” katanya sambil menengok melihat wajah Annisa yang menunduk karena belum percaya diri. “Jadi, Annisa setelah keluar dari gedung ini, niatkan dan katakan. Bismillah, Aku berniat untuk menggunakan jilbab ya Allah. Semoga dengan jilbab ini akan mendatangkan kebaikan untukku”, lanjutnya. Masya Allah, semua orang yang berada dalam gedung saat itu hanya bisa tertegun dan ikut merasakan kesejukan dari sikap Kak Oki. Tidak hanya jilbab, kaos kaki dan juga buku pertamanya, Melukis Pelangi yang sudah ditandatangani juga Ia berikan kepada Annisa.

Sebelum kembali ke tempat duduknya, Annisa sempat bersalaman dan “cupika cupiki” plus dipeluk ma Kak Oki.. sungguh membuat hati iri. Padahal sebenarnya Annisa adalah orang yang paling tidak suka dipeluk, apalagi diajak “cupika cupiki”, tapi giliran Kak Oki, hmm mau aja. Sapa juga yah yang mau nolak hehe..

Kejadian hari itu sungguh luar biasa bagi kami. Mungkin tidak akan pernah kami lupakan. Terutama bagi Annisa. Sejak hari itu, dia jadi penggemar berat Kak Oki loh. Melihat perjalanan Annisa belakangan ini memang membuatku kagum. Sungguh Allah memberikan jalan yang indah baginya menuju hidayah Allah. Mulai dari blognya Kak Novilia, sampai kesempatannya bertemu langsung Kak Oki yang diawali dengan beberapa cobaan.

Setiap kejadian tersebut memberi pelajaran bagi kita bahwa Allah swt. is NOT Blind. Allah selalu memberikan kesempatan bagi setiap hambaNya untuk menuju perbaikan diri. Tinggal bagaimana kita menggunakan kesempatan tersebut dan menyempurnakannya. Semoga kita bisa mengambil manfaat darinya.

Minggu, 18 November 2012

Tertawa itu SEHAT ^_^



Kenapa tertawa itu sehat adalah karena tertawa itu memliki daya kesembuhan berbagai penyakit, baik itu penyakit fisik maupun psikis. Dengan tertawa pikiran atau tubuh kita akan merasa nyaman, mengurangi beban, mengilhami harapan, menghubungkan kita dengan orang lain, serta membuat kita fokus, dan waspada.


Berawal dari kondisi psikis kita yang buruk maka akan menimbulkan penyakit bagi tubuh kita, begitu juga sebaliknya. Pernahkah Anda menjenguk kerabat atau sahabat Anda yang sedang sakit kemudian mengajak dia ikut tertawa bersama Anda. Yang sering terjadi adalah suasana serius yang berusaha kita tunjukan tanpa berani menguarkan canda tawa atau gurauan karena takut kita dianggap tidak berempati terhadap penyakit yang diderita atau mengganggu pasien lain.

Kejadian tersebut diatas tidak akan selalu terjadi apabila Anda, pasien dan orang-orang disekitar Anda memiliki pengetahuan tentang kemampuan tertawa untuk menyembuhkan dan berpedoman pada slogan tertawa itu sehat. Bagi pasien-pasien penderita kanker, untuk menemukan rasa humor mungkin hal yang serius dan sulit. Padahal terapi tawa dapat digunakan sebagai obat kanker. Tawa dapat menjadi obat bagi pasien karena mendatangkan kebahagiaan, terlebih-lebih jika Anda dapat membawakan cerita humor, gambar lucu atau pantun jenaka bagi penderita sakit.

Tertawa itu sehat dan dapat membawa kesembuhan. Untuk memperkuat kalimat tersebut, berikut beberapa fakta hasil penelitian tentang sejumlah manfaat dari tertawa:

-Tertawa mendorong sistem imunitas tubuh dan memperbaiki sistem sirkulasi dalam tubuh.

- Meningkatkan kemampuan tubuh menyerap oksigen.

- Menstimulasi kerja hati dan paru-paru.

- Membuat otot jadi rileks.

- Mendorong tubuh mengeluarkan endorfin. Hormon yang berperan sebagai pereda rasa sakit.

- Menyeimbangkan tekanan darah.

- Memperbaiki fungsi mental seperti meningkatkan kesadaran, memori, dan kreativitas.

Dari riset tentang berbagai manfaat tertawa diatas memang dapat disimpulkan bahwa tertawa memiliki daya sembuh yang tak bisa kita remehkan. http://anomiemine.blogspot.com


Gembala Kambing 
By: (lia_tarq)

Suatu hari, Fulan berpapasan dengan seorang gembala dengan kambingnya.
Fulan bertanya dengan takjub

Fulan               : "Pak, boleh nanya nih?"
Gembala          : "Boleh"
Fulan               : "Kambing-kambing bapak sehat sekali,bapak kasih makan apa?"
Gembala          : "yang mana dulu nih? yang hitam atau yang putih?"
Fulan               : "mmmm ...Yang hitam dulu deh...."
Gembala          : "oh, kalo yang hitam, dia makannya rumput basah"
Fulan               : "ohh...kalo yang putih?"
Gembala          : "yang putih juga..."
Fulan               : "hmmm...kambing-kambing ini, kuat jalan berapa kilo pak?"
Gembala          : "yang mana dulu nih? yang hitam atau yang putih?"
Fulan               : "mmmm Yang hitam dulu deh...."
Gembala          : "oh, kalo yang hitam, 4 km sehari"
Fulan               : "kalo yang putih?"
Gembala          : "yang putih juga..."

Si Fulan mulai gondok.... : "kambing ini,menghasilkan banyak bulu ngga pak, pertahunnya?"
Gembala          : "yang mana dulu nih? yang hitam atau yang putih?"
Fulan               : "(dengan kesalnya) yang hitam dulu deh..."
Gembala          : "oh, yang hitam, banyak...10 kg/th"
Fulan               : "kalo yang putih...?"
Gembala          : "yang putih juga"
Fulan               : "BAPAK KENAPA SIH SELALU NGEBEDAIN KAMBING DUA INI, KALO JAWABANNYA SAMA???"
Gembala          : "oh, gini dik, soalnya yang hitam itu,punya saya...."
Fulan               : "Oh gitu pak, maaf kalo saya emosi... , kalo yang putih?"
Gembala          : "yang putih juga"
Fulan              : #$@%!!??

Aku Tidak Lebih Dulu Ke Surga



Aku tidak tahu dimana berada. Meski sekian banyak manusia berada disekelilingku, namun aku tetap merasa sendiri dan ketakutan. Aku masih bertanya dan terus bertanya, tempat apa ini, dan buat apa semua manusia dikumpulkan. Mungkinkah, ah aku tidak mau mengira-ngira.

Rasa takutku makin menjadi-jadi, tatkala seseorang yang tidak pernah kukenal
sebelumnya mendekati dan menjawab pertanyaan hatiku. "Inilah yang disebut
Padang Mahsyar," suaranya begitu menggetarkan jiwaku. "Bagaimana ia bisa tahu
pertanyaanku," batinku. Aku menggigil, tubuhku terasa lemas, mataku tegang mencari perlindungan dari seseorang yang kukenal.

Kusaksikan langit menghitam, sesaat kemudian bersinar kemilauan. Bersamaan dengan itu, terdengar suara menggema. Aku baru sadar, inilah hari penentuan, hari dimana semua manusia akan menerima keputusan akan balasan dari amalnya selama hidup didunia. Hari ini pula akan ditentukan nasib manusia selanjutnya, surgakah yang akan dinikmati atau adzab neraka yang siap menanti.

Aku semakin takut. Namun ada debar dalam dadaku mengingat amal-amal baikku didunia. Mungkinkah aku tergolong orang-orang yang mendapat kasih-Nya atau jangan-jangan .........

Aku dan semua manusia lainnya masih menunggu keputusan dari Yang menguasai hari pembalasan. Tak lama kemudian, terdengar lagi suara menggema tadi yang mengatakan, bahwa sesaat lagi akan dibacakan daftar manusia-manusia yang akan menemani Rasulullah SAW di surga yang indah. Lagi-lagi dadaku berdebar, ada keyakinan bahwa namaku termasuk dalam daftar itu, mengingat banyaknya infaq yang aku sedekahkan. Terlebih lagi, sewaktu didunia aku dikenal sebagai juru dakwah. "Kalaulah banyak orang yang kudakwahi masuk surga, apalagi aku," pikirku mantap.

Akhirnya, nama-nama itupun mulai disebutkan. Aku masih beranggapan bahwa namaku ada dalam deretan penghuni surga itu, mengingat ibadah-ibadah dan perbuatan-perbuatan baikku. Dalam daftar itu, nama Rasulullah Muhammad SAW sudah pasti tercantum pada urutan teratas, sesuai janji Allah melalui Jibril, bahwa tidak satupun jiwa yang masuk kedalam surga sebelum Muhammad masuk. Setelah itu tersebutlah para Assabiquunal Awwaluun. Kulihat Fatimah Az Zahra dengan senyum manisnya melangkah bahagia sebagai wanita pertama yang ke surga, diikuti para istri-istri dan keluarga rasul lainnya.

Para nabi dan rasul Allah lainnya pun masuk dalam daftar tersebut. Yasir dan Sumayyah berjalan tenang dengan predikat Syahid dan syahidah pertama dalam Islam. Juga para sahabat lainnya, satu persatu para pengikut terdahulu Rasul itu dengan bangga melangkah ke tempat dimana Allah akan membuka tabirnya. Yang aku tahu, salah satu kenikmatan yang akan diterima para penghuni surga adalah melihat wajah Allah. Kusaksikan para sahabat Muhajirin dan Anshor yang tengah bersyukur mendapatkan nikmat tiada terhingga sebagai balasan kesetiaan berjuang bersama Muhammad menegakkan risalah. Setelah itu tersebutlah
para mukminin terdahulu dan para syuhada dalam berbagai perjuangan pembelaan agama Allah.

Sementara itu, dadaku berdegub keras menunggu giliran. Aku terperanjat begitu melihat rombongan anak-anak yatim dengan riang berlari untuk segera menikmati kesegaran telaga kautsar. Beberapa dari mereka tersenyum sambil melambaikan tangannya kepadaku. Sepertinya aku kenal mereka. Ya Allah, mereka anak-anak yatim sebelah rumahku yang tidak pernah kuperhatikan. Anak-anak yang selalu menangis kelaparan dimalam hari sementara sering kubuang sebagian makanan yang tak habis kumakan.

"Subhanallah, itu si Parmin tukang mie dekat kantorku," aku terperangah melihatnya melenggang ke surga. Parmin, pemuda yang tidak pernah lulus SD itu pernah bercerita, bahwa sebagian besar hasil dagangnya ia kririmkan untuk ibu dan biaya sekolah empat adiknya. Parmin yang rajin sholat itu, rela berpuasa berhari-hari asal ibu dan adik-adiknya di kampung tidak kelaparan. Tiba-tiba, orang yang sejak tadi disampingku berkata lagi, "Parmin yang tukang mie itu lebih baik dimata Allah. Ia bekerja untuk kebahagiaan orang lain." Sementara aku, semua hasil keringatku semata untuk keperluanku.

Lalu berturut-turut lewat didepan mataku, mbok Darmi penjual pecel yang kehadirannya selalu kutolak, pengemis yang setiap hari lewat depan rumah dan selalu mendapatkan kata "maaf" dari bibirku dibalik pagar tinggi rumahku. Orang disampingku berbicara lagi seolah menjawab setiap pertanyaanku meski tidak kulontarkan, "Mereka ihklas, tidak sakit hati serta tidak memendam kebencian meski kau tolak."

Masya Allah murid-murid pengajian yang aku bina, mereka mendahuluiku ke surga.
Setelah itu, berbondong-bondong jamaah masjid-masjid tempat biasa aku berceramah. "Mereka belajar kepadamu, lalu mereka amalkan. Sedangkan kau, terlalu banyak berbicara dan sedikit mendengarkan. Padahal, lebih banyak yang bisa dipelajari dengan mendengar dari pada berbicara," jelasnya lagi.

Aku semakin penasaran dan terus menunggu giliranku dipanggil. Seiring dengan itu antrian manusia-manusia dengan wajah ceria, makin panjang. Tapi sejauh ini, belum juga namaku terpanggil. Aku mulai kesal, aku ingin segera bertemu Allah dan berkata, "Ya Allah, didunia aku banyak melakukan ibadah, aku bershodaqoh, banyak membantu orang lain, banyak berdakwah, izinkan aku ke surgaMu."

Orang dengan wajah bersinar disampingku itu hendak berbicara lagi, aku ingin menolaknya. Tetapi, tanganku tak kuasa menahannya untuk berbicara. "Ibadahmu bukan untuk Allah, tapi semata untuk kepentinganmu mendapatkan surga Allah, shodaqohmu sebatas untuk memperjelas status sosial, dibalik bantuanmu tersimpan keinginan mendapatkan penghargaan, dan dakwah yang kau lakukan hanya berbekas untuk orang lain, tidak untukmu," bergetar tubuhku mendengarnya.

Anak-anak yatim, Parmin, mbok Darmi, pengemis tua, murid-murid pengajian, jamaah masjid dan banyak lagi orang-orang yang sering kuanggap tidak lebih baik dariku, mereka lebih dulu ke surga Allah. Padahal, aku sering beranggapan, surga adalah balasan yang pantas untukku atas dakwah yang kulakukan, infaq yang kuberikan, ilmu yang kuajarkan dan perbuatan baik lainnya. Ternyata, aku tidak lebih tunduk dari pada mereka, tidak lebih
ikhlas dalam beramal dari pada mereka, tidak lebih bersih hati dari pada mereka, sehingga aku tidak lebih dulu ke surga dari mereka.

Jam dinding berdentang tiga kali. Aku tersentak bangun dan, astaghfirullah ternyata Allah telah menasihatiku lewat mimpi malam ini. 



prayoga.net